PT. Zam Zam Tour & Travel

Siapa yang Membangun Ka’bah? Sejarah Rumah Allah dari Zaman ke Zaman

zamzamumroh.id – Ka’bah adalah bangunan suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Setiap hari, jutaan muslim menghadap ke arahnya saat salat, dan jutaan lainnya menziarahinya setiap tahun dalam ibadah haji dan umrah. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya yang pertama kali membangun Ka’bah dan bagaimana sejarah pembangunannya dari masa ke masa?

Awal Mula: Ka’bah di Masa Nabi Adam AS

Menurut banyak riwayat ulama dan ahli sejarah Islam, Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam AS atas perintah Allah SWT. Bangunan ini didirikan sebagai tempat pertama di bumi untuk beribadah kepada Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa lokasi Ka’bah sudah ditentukan langsung oleh Allah di bumi, tepat di bawah Baitul Ma’mur — tempat para malaikat beribadah di langit ketujuh.

Namun, seiring berjalannya waktu dan beberapa peristiwa alam besar seperti banjir besar di masa Nabi Nuh AS, bangunan Ka’bah sempat rusak dan hilang jejaknya.

Pembangunan Ulang oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS

Sejarah mencatat bahwa pembangunan Ka’bah secara besar-besaran kembali dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa inilah yang paling dikenal dan diabadikan dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami); sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
(QS. Al-Baqarah: 127)

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Ka’bah dari batu-batu yang diambil dari berbagai gunung di sekitar Makkah, seperti Gunung Hira, Thabir, dan Jabal Qubais. Bentuknya kala itu lebih sederhana, tanpa atap, dan tidak terlalu tinggi. Batu Hajar Aswad pun diletakkan oleh Nabi Ibrahim di sudut Ka’bah, menjadi penanda mulia yang hingga kini menjadi bagian utama dalam ibadah thawaf.

Renovasi di Masa Quraisy

Menjelang masa kenabian Rasulullah ﷺ, Ka’bah kembali mengalami kerusakan akibat banjir besar yang melanda Makkah. Suku Quraisy yang menjadi penjaga Ka’bah saat itu berinisiatif merenovasi bangunan suci tersebut. Mereka meninggikan dinding Ka’bah dan menambahkan atap untuk melindunginya dari cuaca ekstrem.

Dalam proses pembangunan ini, sempat terjadi perdebatan besar di antara kabilah Quraisy tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Namun, persoalan itu diselesaikan dengan bijak oleh Rasulullah ﷺ, yang pada saat itu belum diangkat menjadi nabi. Beliau mengusulkan agar batu itu diletakkan di atas kain, lalu diangkat bersama oleh perwakilan setiap suku, dan beliau sendiri yang menempatkannya di posisi semula.

Perubahan di Masa Setelahnya

Sepanjang sejarah, Ka’bah mengalami beberapa renovasi dan perbaikan, antara lain:

  • Tahun 683 M, ketika terjadi perang antara Abdullah bin Zubair dan pasukan Yazid bin Muawiyah, Ka’bah sempat terbakar. Abdullah bin Zubair kemudian membangunnya kembali sesuai dengan fondasi Nabi Ibrahim.
  • Tahun 693 M, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Ka’bah direnovasi lagi dan mengembalikannya ke bentuk yang ada saat ini.
  • Renovasi modern juga dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, termasuk penggantian kain Kiswah setiap tahun dan penguatan struktur batu serta fondasi agar tetap kokoh menahan jutaan pengunjung setiap tahunnya.

Makna Spiritual di Balik Pembangunan Ka’bah

Ka’bah bukan hanya bangunan batu dan marmer — ia adalah simbol tauhid dan ketaatan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangunnya bukan karena kemegahan, tetapi karena cinta dan kepatuhan kepada Allah SWT. Dalam setiap thawaf, umat Islam diingatkan pada pengorbanan dan ketulusan kedua nabi tersebut.

Ka’bah menjadi titik persatuan umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit. Setiap orang yang datang untuk beribadah di sekitarnya berdiri sejajar tanpa perbedaan — semua sama di hadapan Allah.

Penutup

Sejarah pembangunan Ka’bah menunjukkan bahwa rumah Allah ini telah dijaga dan diperhatikan oleh para nabi serta pemimpin umat dari masa ke masa. Dari Nabi Adam AS hingga renovasi modern hari ini, semuanya menunjukkan betapa besar cinta umat manusia kepada tempat suci ini.Bagi jamaah yang berangkat bersama Zam Zam Tour, memahami sejarah ini memberi makna lebih dalam ketika menatap Ka’bah — bukan sekadar melihat bangunan megah, tetapi juga menyaksikan simbol perjuangan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Tinggalkan pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *