PT. Zam Zam Tour & Travel

Pahala Umroh di Bulan Ramadhan

zamzamumroh.id – Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah ﷻ. Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Di antara ibadah yang memiliki keutamaan besar adalah melaksanakan umroh di bulan Ramadhan. Ibadah ini menggabungkan dua kemuliaan sekaligus: kemuliaan ibadah umroh dan kemuliaan waktu Ramadhan. Makna Hadis Umroh di Bulan Ramadhan Setara dengan Haji Rasulullah ﷺ secara khusus menjelaskan keutamaan umroh di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً “Umroh di bulan Ramadhan setara dengan (pahala) haji.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي “(Pahalanya) setara dengan haji bersamaku.”(HR. Al-Bukhari) Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan umroh di bulan Ramadhan. Namun para ulama menegaskan bahwa kesetaraan tersebut adalah dalam hal pahala, bukan menggugurkan kewajiban haji bagi yang belum melaksanakannya. Allah ﷻ berfirman: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”(QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menegaskan kemuliaan bulan Ramadhan sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih, termasuk umroh. Umroh di bulan Ramadhan juga dilaksanakan di tempat yang paling mulia, yaitu Masjidil Haram. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ خَيْرٌ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”(HR. Ahmad) Ketika ibadah umroh dilakukan di bulan Ramadhan dan di Masjidil Haram, maka seorang muslim mendapatkan keutamaan waktu dan tempat sekaligus, yang menjadikan pahala ibadahnya semakin besar. Selain pahala yang besar, umroh di bulan Ramadhan juga menjadi sarana penghapus dosa dan pembersih jiwa. Rasulullah ﷺ bersabda: الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا “Umroh yang satu ke umroh berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hikmah dan Pelajaran dari Umroh di Bulan Ramadhan Ibadah umroh di bulan Ramadhan hendaknya dilakukan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan menjaga adab, mengingat kepadatan jamaah dan kondisi fisik yang lebih berat karena berpuasa. Semua kesulitan tersebut, insyaAllah, akan bernilai pahala besar di sisi Allah ﷻ. Kesempatan melaksanakan umroh di bulan Ramadhan adalah karunia yang tidak semua orang dapatkan. Oleh karena itu, hendaknya setiap jamaah memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak doa, dzikir, shalat, membaca Al-Qur’an, dan amal kebaikan lainnya. Semoga Allah ﷻ menerima seluruh amal ibadah umroh di bulan Ramadhan, mengampuni dosa-dosa, melipatgandakan pahala, dan memberikan keberkahan dalam kehidupan.

Pahala Mencari Lailatul Qadar di Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Lailatul Qadar adalah malam yang paling mulia dalam setahun. Malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan ini menjadi waktu terbaik bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan berbagai bentuk ibadah. Mencari Lailatul Qadar di Masjidil Haram, tempat paling mulia di muka bumi, merupakan kesempatan yang sangat besar dan penuh keberkahan. Dalil Al-Qur’an tentang Lailatul Qadar Allah ﷻ berfirman: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 3) Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar memiliki pahala yang jauh lebih besar dibandingkan ibadah selama seribu bulan. Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Beliau bersabda: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Pahala Ibadah di Masjidil Haram pada Malam Lailatul Qadar Masjidil Haram memiliki keutamaan yang sangat besar. Setiap ibadah yang dilakukan di dalamnya dilipatgandakan pahalanya. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ خَيْرٌ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”(HR. Ahmad) Jika ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya hingga seratus ribu kali lipat, maka ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar di Masjidil Haram tentu memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar, yang hanya Allah ﷻ yang mengetahui kadar balasannya. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan keutamaan ibadah pada malam Lailatul Qadar: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa mencari dan menghidupkan Lailatul Qadar adalah sebab besar diampuninya dosa-dosa seorang hamba. Doa Terbaik di Malam Lailatul Qadar Amalan yang dianjurkan ketika mencari Lailatul Qadar antara lain shalat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, dan istighfar. Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang doa yang dibaca jika mendapatkan Lailatul Qadar, maka beliau bersabda: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”(HR. At-Tirmidzi) Mencari Lailatul Qadar di Masjidil Haram adalah nikmat yang sangat besar. Jutaan malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan, sementara doa-doa dipanjatkan di tempat yang paling dicintai Allah. Kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan dengan penuh kesungguhan, keikhlasan, dan adab, tanpa melupakan kenyamanan jamaah lain. Semoga Allah ﷻ memberikan kesempatan kepada kita untuk meraih Lailatul Qadar di Masjidil Haram, menerima seluruh amal ibadah, mengampuni dosa-dosa, dan melipatgandakan pahala dengan rahmat-Nya. Referensi Ilmiah

Amalan Terbaik Ketika Berada di Depan Ka’bah

zamzamumroh.id – Berada di depan Ka’bah adalah momen yang sangat mulia dan langka bagi seorang muslim. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berdiri di hadapan rumah Allah secara langsung. Oleh karena itu, waktu yang singkat namun penuh berkah ini hendaknya dimanfaatkan dengan amalan-amalan terbaik yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Ketika berdiri di depan Ka’bah, hati seorang mukmin seharusnya dipenuhi rasa kagum, takut, harap, dan cinta kepada Allah. Inilah saat yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan menghadirkan kekhusyukan, karena Ka’bah adalah pusat ibadah dan doa umat Islam dari seluruh dunia. Allah ﷻ berfirman: وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا “Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan Baitullah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.”(QS. Al-Baqarah: 125) Ayat ini menunjukkan bahwa Ka’bah adalah tempat kembali bagi hati orang-orang beriman untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Memperbanyak Doa Amalan terbaik ketika berada di depan Ka’bah adalah memperbanyak doa. Doa merupakan inti ibadah dan bentuk ketergantungan seorang hamba kepada Rabb-nya. Rasulullah ﷺ bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa itu adalah inti dari ibadah.”(HR. At-Tirmidzi) Di depan Ka’bah, jamaah dianjurkan memohon ampunan dosa, kebaikan dunia dan akhirat, serta mendoakan keluarga dan kaum muslimin dengan penuh keyakinan. Berdzikir dan Mengagungkan Allah Selain doa, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Dzikir akan menenangkan hati dan menguatkan iman, sebagaimana firman Allah ﷻ: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”(QS. Ar-Ra’d: 28) Memandangi Ka’bah dengan Pengagungan Para ulama menjelaskan bahwa memandangi Ka’bah dengan penuh pengagungan juga termasuk ibadah. Hal ini karena Ka’bah merupakan syiar Allah yang sangat agung. Allah ﷻ berfirman: وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ “Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.”(QS. Al-Hajj: 32) Memperbanyak Istighfar dan Taubat Berada di depan Ka’bah adalah waktu yang sangat tepat untuk memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah. Mengakui dosa, menyesalinya, dan bertekad untuk memperbaiki diri adalah amalan yang sangat dicintai Allah ﷻ. Allah berfirman: وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.”(QS. An-Nur: 31) Menjaga Adab dan Kekhusyukan Selain memperbanyak amalan, jamaah juga dianjurkan untuk menjaga adab saat berada di depan Ka’bah, seperti tidak berdesakan, tidak mengganggu jamaah lain, serta menghindari perbuatan yang dapat mengurangi kekhusyukan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa menjaga adab adalah bagian dari kesempurnaan ibadah. Kesempatan berada di depan Ka’bah adalah nikmat yang sangat besar. Oleh karena itu, hendaknya setiap jamaah memanfaatkan momen tersebut dengan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, memperbaiki niat, dan memperbanyak amal shalih. Semoga Allah ﷻ menerima setiap doa, dzikir, dan amal yang dilakukan di hadapan Ka’bah, serta menganugerahkan umroh yang mabrur dan kehidupan yang penuh keberkahan. Referensi Ilmiah

Keutamaan dan Pahala Bersedekah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah adalah dua tempat paling mulia dalam Islam. Setiap ibadah yang dilakukan di kedua masjid ini memiliki keutamaan dan pahala yang berlipat ganda. Di antara amalan yang sangat dianjurkan ketika berada di dua tanah suci tersebut adalah bersedekah. Pahala Sedekah yang Dilipatgandakan oleh Allah Sedekah bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ. Ketika sedekah dilakukan di tempat yang mulia dan pada waktu yang penuh keberkahan, maka pahalanya pun semakin besar. Allah ﷻ berfirman: مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah di jalan Allah akan dilipatgandakan pahalanya dengan kelipatan yang sangat besar, apalagi jika dilakukan di tempat yang paling dicintai Allah. Sedekah sebagai Bukti Keimanan Seorang Muslim Rasulullah ﷺ bersabda: الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ “Sedekah adalah bukti (keimanan).”(HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah merupakan bukti keimanan seorang hamba kepada Allah ﷻ dan keyakinannya terhadap balasan di akhirat. Masjid Nabawi dan Masjidil Haram memiliki keutamaan yang tidak dimiliki masjid lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya di dua masjid ini, maka para ulama menjelaskan bahwa amalan kebaikan lainnya, termasuk sedekah, juga memiliki keutamaan yang besar ketika dilakukan di tempat tersebut. Sedekah yang diberikan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak, seperti jamaah yang membutuhkan, petugas masjid, program sosial, serta berbagai kegiatan kemaslahatan umat. Setiap manfaat yang timbul dari sedekah tersebut akan menjadi tambahan pahala bagi orang yang bersedekah. Rasulullah ﷺ juga bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”(HR. Muslim) Hadis ini memberikan ketenangan bagi kaum muslimin bahwa sedekah tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan. Selain itu, sedekah termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir, terutama jika digunakan untuk kepentingan umum dan kemaslahatan umat. Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ “… kecuali dari sedekah jariyah …”(HR. Muslim) Bersedekah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dengan niat ikhlas dapat menjadi investasi akhirat yang sangat berharga. Setiap rupiah yang dikeluarkan, sekecil apa pun, insyaAllah akan dibalas dengan pahala yang besar dan keberkahan hidup. Semoga Allah ﷻ menerima setiap sedekah yang diberikan di dua masjid suci ini, melipatgandakan pahalanya, membersihkan harta, dan menjadikannya sebagai sebab turunnya rahmat dan ampunan-Nya. Referensi Ilmiah

Keutamaan Mengusap Rukun Yamani

zamzamumroh.id – Dalam rangkaian ibadah thawaf di Masjidil Haram, terdapat amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar, salah satunya adalah mengusap Rukun Yamani. Rukun Yamani adalah salah satu sudut Ka’bah yang terletak sebelum Hajar Aswad jika memulai thawaf dari arah Hajar Aswad. Dalil Hadis Tentang Sunnah Mengusap Rukun Yamani Mengusap Rukun Yamani merupakan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dan mengandung pahala serta keberkahan bagi jamaah yang melakukannya sesuai tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَدَعُ أَنْ يَسْتَلِمَ الرُّكْنَ الْيَمَانِيَّ وَالْحَجَرَ الْأَسْوَدَ فِي كُلِّ طَوَافٍ “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan untuk mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad dalam setiap thawaf.”(HR. Ahmad) Mengusap Rukun Yamani Termasuk Sunnah Muakkadah Hadis ini menunjukkan bahwa mengusap Rukun Yamani adalah sunnah muakkadah, selama jamaah mampu melakukannya tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain. Keutamaan mengusap Rukun Yamani juga disebutkan dalam hadis yang menjelaskan penghapusan dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ مَسْحَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَالرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ يَحُطَّانِ الْخَطَايَا حَطًّا “Sesungguhnya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menggugurkan dosa-dosa.”(HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan bahwa amalan sederhana seperti mengusap Rukun Yamani memiliki dampak besar dalam membersihkan dosa, selama dilakukan dengan keimanan dan keikhlasan. Berbeda dengan Hajar Aswad yang disunnahkan untuk dicium atau diusap dan diberi isyarat jika tidak mampu, Rukun Yamani hanya disunnahkan untuk diusap dengan tangan. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya karena kondisi padat, maka jamaah tidak disunnahkan untuk memberi isyarat, tetapi cukup melewatinya sambil berdzikir. Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: مَا تَرَكْتُ اسْتِلَامَ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَسْتَلِمُهُمَا “Aku tidak pernah meninggalkan mengusap dua rukun ini sejak aku melihat Rasulullah ﷺ mengusap keduanya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Rukun Yamani terletak pada fakta bahwa sudut ini berada di atas pondasi asli Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام, sehingga memiliki kedudukan khusus dibandingkan dua rukun lainnya. Namun, penting untuk diingat bahwa kesempurnaan thawaf tidak bergantung pada mengusap Rukun Yamani. Thawaf tetap sah meskipun tidak mengusapnya. Yang lebih utama adalah menjaga keselamatan, ketertiban, dan kekhusyukan ibadah. Mengusap Rukun Yamani hendaknya dilakukan dengan penuh adab, tanpa dorong-dorongan, serta diiringi dengan doa dan dzikir. Doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (HR. Abu Dawud) Semoga Allah ﷻ menerima setiap thawaf yang kita lakukan, mengampuni dosa-dosa kita melalui amalan sunnah ini, dan menjadikan ibadah di Masjidil Haram sebagai sebab turunnya rahmat dan keberkahan. Referensi Ilmiah