PT. Zam Zam Tour & Travel

Keutamaan Berpuasa Sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah merupakan dua tempat paling mulia di muka bumi. Setiap ibadah yang dilakukan di kedua masjid ini memiliki keutamaan dan pahala yang besar di sisi Allah ﷻ. Di antara ibadah yang sangat dianjurkan bagi jamaah umroh dan haji adalah melaksanakan puasa sunnah selama berada di Tanah Suci. Keutamaan Puasa Sunnah di Tanah Suci Puasa sunnah merupakan ibadah yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Ketika puasa sunnah dilakukan di tempat yang penuh keberkahan seperti Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, maka nilai ibadah tersebut semakin besar. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah menumbuhkan ketakwaan. Puasa sunnah menjadi sarana tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan puasa sunnah dan menjelaskan keutamaannya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa di sisi Allah ﷻ, baik puasa wajib maupun puasa sunnah. Berpuasa sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga beriringan dengan keutamaan ibadah lainnya, seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa yang dilakukan di dua masjid suci tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya di dua masjid ini, maka ibadah puasa sunnah yang mengiringinya juga semakin bernilai besar di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang keutamaan puasa sunnah: مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بِهِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا “Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hikmah Puasa Sunnah di Tanah Haram Puasa sunnah yang dilakukan di Tanah Suci hendaknya diiringi dengan menjaga adab, kesehatan, dan kekhusyukan ibadah. Jamaah dianjurkan untuk memilih jenis puasa sunnah yang sesuai kemampuan, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, atau puasa Daud bagi yang mampu. Kesempatan berpuasa sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram adalah nikmat besar. Tidak semua orang bisa menjalankan ibadah ini di tempat yang penuh keberkahan. Oleh karena itu, hendaknya jamaah memanfaatkan waktu di Tanah Suci dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Semoga Allah ﷻ menerima setiap puasa sunnah yang dilakukan, melipatgandakan pahalanya, serta menganugerahkan keberkahan, ampunan, dan ketakwaan dalam kehidupan. Referensi Ilmiah

Keutamaan dan Pahala Bersedekah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah adalah dua tempat paling mulia dalam Islam. Setiap ibadah yang dilakukan di kedua masjid ini memiliki keutamaan dan pahala yang berlipat ganda. Di antara amalan yang sangat dianjurkan ketika berada di dua tanah suci tersebut adalah bersedekah. Pahala Sedekah yang Dilipatgandakan oleh Allah Sedekah bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ. Ketika sedekah dilakukan di tempat yang mulia dan pada waktu yang penuh keberkahan, maka pahalanya pun semakin besar. Allah ﷻ berfirman: مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah di jalan Allah akan dilipatgandakan pahalanya dengan kelipatan yang sangat besar, apalagi jika dilakukan di tempat yang paling dicintai Allah. Sedekah sebagai Bukti Keimanan Seorang Muslim Rasulullah ﷺ bersabda: الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ “Sedekah adalah bukti (keimanan).”(HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah merupakan bukti keimanan seorang hamba kepada Allah ﷻ dan keyakinannya terhadap balasan di akhirat. Masjid Nabawi dan Masjidil Haram memiliki keutamaan yang tidak dimiliki masjid lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya di dua masjid ini, maka para ulama menjelaskan bahwa amalan kebaikan lainnya, termasuk sedekah, juga memiliki keutamaan yang besar ketika dilakukan di tempat tersebut. Sedekah yang diberikan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak, seperti jamaah yang membutuhkan, petugas masjid, program sosial, serta berbagai kegiatan kemaslahatan umat. Setiap manfaat yang timbul dari sedekah tersebut akan menjadi tambahan pahala bagi orang yang bersedekah. Rasulullah ﷺ juga bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”(HR. Muslim) Hadis ini memberikan ketenangan bagi kaum muslimin bahwa sedekah tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan. Selain itu, sedekah termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir, terutama jika digunakan untuk kepentingan umum dan kemaslahatan umat. Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ “… kecuali dari sedekah jariyah …”(HR. Muslim) Bersedekah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dengan niat ikhlas dapat menjadi investasi akhirat yang sangat berharga. Setiap rupiah yang dikeluarkan, sekecil apa pun, insyaAllah akan dibalas dengan pahala yang besar dan keberkahan hidup. Semoga Allah ﷻ menerima setiap sedekah yang diberikan di dua masjid suci ini, melipatgandakan pahalanya, membersihkan harta, dan menjadikannya sebagai sebab turunnya rahmat dan ampunan-Nya. Referensi Ilmiah

Keutamaan Mengusap Rukun Yamani

zamzamumroh.id – Dalam rangkaian ibadah thawaf di Masjidil Haram, terdapat amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar, salah satunya adalah mengusap Rukun Yamani. Rukun Yamani adalah salah satu sudut Ka’bah yang terletak sebelum Hajar Aswad jika memulai thawaf dari arah Hajar Aswad. Dalil Hadis Tentang Sunnah Mengusap Rukun Yamani Mengusap Rukun Yamani merupakan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dan mengandung pahala serta keberkahan bagi jamaah yang melakukannya sesuai tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَدَعُ أَنْ يَسْتَلِمَ الرُّكْنَ الْيَمَانِيَّ وَالْحَجَرَ الْأَسْوَدَ فِي كُلِّ طَوَافٍ “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan untuk mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad dalam setiap thawaf.”(HR. Ahmad) Mengusap Rukun Yamani Termasuk Sunnah Muakkadah Hadis ini menunjukkan bahwa mengusap Rukun Yamani adalah sunnah muakkadah, selama jamaah mampu melakukannya tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain. Keutamaan mengusap Rukun Yamani juga disebutkan dalam hadis yang menjelaskan penghapusan dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ مَسْحَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَالرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ يَحُطَّانِ الْخَطَايَا حَطًّا “Sesungguhnya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menggugurkan dosa-dosa.”(HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan bahwa amalan sederhana seperti mengusap Rukun Yamani memiliki dampak besar dalam membersihkan dosa, selama dilakukan dengan keimanan dan keikhlasan. Berbeda dengan Hajar Aswad yang disunnahkan untuk dicium atau diusap dan diberi isyarat jika tidak mampu, Rukun Yamani hanya disunnahkan untuk diusap dengan tangan. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya karena kondisi padat, maka jamaah tidak disunnahkan untuk memberi isyarat, tetapi cukup melewatinya sambil berdzikir. Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: مَا تَرَكْتُ اسْتِلَامَ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَسْتَلِمُهُمَا “Aku tidak pernah meninggalkan mengusap dua rukun ini sejak aku melihat Rasulullah ﷺ mengusap keduanya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Rukun Yamani terletak pada fakta bahwa sudut ini berada di atas pondasi asli Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام, sehingga memiliki kedudukan khusus dibandingkan dua rukun lainnya. Namun, penting untuk diingat bahwa kesempurnaan thawaf tidak bergantung pada mengusap Rukun Yamani. Thawaf tetap sah meskipun tidak mengusapnya. Yang lebih utama adalah menjaga keselamatan, ketertiban, dan kekhusyukan ibadah. Mengusap Rukun Yamani hendaknya dilakukan dengan penuh adab, tanpa dorong-dorongan, serta diiringi dengan doa dan dzikir. Doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (HR. Abu Dawud) Semoga Allah ﷻ menerima setiap thawaf yang kita lakukan, mengampuni dosa-dosa kita melalui amalan sunnah ini, dan menjadikan ibadah di Masjidil Haram sebagai sebab turunnya rahmat dan keberkahan. Referensi Ilmiah

Pahala Shalat di Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjidil Haram adalah masjid paling mulia di muka bumi. Di dalamnya terdapat Ka’bah, kiblat seluruh kaum muslimin, tempat pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Setiap langkah menuju Masjidil Haram dan setiap ibadah yang dilakukan di dalamnya memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar, khususnya shalat. Dalil Al-Qur’an tentang Keberkahan Masjidil Haram Allah ﷻ berfirman: إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”(QS. Ali ‘Imran: 96) Ayat ini menegaskan bahwa Masjidil Haram adalah tempat ibadah yang penuh keberkahan dan menjadi pusat petunjuk bagi umat manusia. Makna Pahala 100.000 Kali Lipat dalam Pandangan Ulama Rasulullah ﷺ secara khusus menjelaskan besarnya pahala shalat di Masjidil Haram. Beliau bersabda: صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ “Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Hadis ini menunjukkan bahwa satu kali shalat di Masjidil Haram bernilai pahala 100.000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha yang juga memiliki keutamaan khusus. Keutamaan Shalat Fardhu dan Sunnah di Masjidil Haram Keutamaan ini berlaku untuk shalat fardhu maupun shalat sunnah, selama dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai tuntunan syariat. Para ulama menjelaskan bahwa pelipatgandaan pahala ini adalah bentuk kemuliaan Allah ﷻ terhadap tempat yang Dia muliakan. Selain pahala shalat, Allah ﷻ juga menjadikan Masjidil Haram sebagai tempat yang aman dan penuh rahmat. Allah berfirman: وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا “Barang siapa memasukinya, maka ia akan aman.”(QS. Ali ‘Imran: 97) Keamanan ini mencakup keamanan fisik dan ketenangan hati bagi orang-orang yang beribadah dengan penuh ketundukan kepada Allah ﷻ. Shalat di Masjidil Haram juga menjadi sarana untuk memperkuat tauhid dan menghadirkan kekhusyukan yang mendalam. Menghadap Ka’bah secara langsung, menyatu dengan jutaan jamaah dari seluruh penjuru dunia, mengingatkan seorang muslim tentang kebesaran Allah dan persaudaraan umat Islam. Namun, besarnya pahala shalat di Masjidil Haram hendaknya diiringi dengan menjaga adab, kesabaran, dan akhlak mulia. Menjaga ketertiban, tidak menyakiti sesama jamaah, serta memperbanyak dzikir dan doa adalah bagian dari kesempurnaan ibadah di tanah suci. Bagi jamaah umroh dan haji, kesempatan shalat di Masjidil Haram adalah nikmat luar biasa yang tidak semua orang dapatkan. Oleh karena itu, hendaknya waktu yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin untuk shalat, doa, dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Semoga Allah ﷻ menerima setiap shalat yang kita kerjakan di Masjidil Haram, melipatgandakan pahalanya, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan ibadah tersebut sebagai bekal keselamatan di dunia dan akhirat. Referensi Ilmiah

Di Manakah Tempat Berdirinya Dajjal? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Hadis Shahih

zamzamumroh.id – Fitnah Dajjal adalah fitnah terbesar yang akan terjadi menjelang hari kiamat. Rasulullah ﷺ telah menjelaskan dengan rinci tentang ciri-ciri, pergerakan, hingga tempat muncul dan berdirinya Dajjal, agar umat Islam tidak terjerumus dalam kesesatan dan informasi keliru. Perlu ditegaskan sejak awal bahwa Dajjal tidak akan pernah berdiri atau masuk ke Makkah dan Madinah. Lalu, di manakah sebenarnya Dajjal akan muncul dan berdiri? Dajjal Muncul dari Arah Timur (Khurasan) Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa awal kemunculan Dajjal berasal dari arah timur, tepatnya dari wilayah Khurasan. Beliau bersabda: يَخْرُجُ الدَّجَّالُ مِنْ خُرَاسَانَ “Dajjal akan keluar dari wilayah Khurasan.”(HR. At-Tirmidzi) Dalam riwayat lain disebutkan ciri pengikutnya: يَتْبَعُ الدَّجَّالَ قَوْمٌ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ “Dajjal akan diikuti oleh orang-orang Yahudi dari Ashbahan.”(HR. Muslim) Para ulama menjelaskan bahwa Khurasan adalah wilayah luas di timur dunia Islam (mencakup Iran, Afghanistan, dan sekitarnya). Dari sanalah Dajjal mulai menyebarkan fitnahnya ke seluruh penjuru dunia. Dajjal Berkeliling ke Seluruh Dunia Setelah muncul, Dajjal akan berkeliling ke hampir seluruh negeri dengan kecepatan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda: مَا مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ “Tidak ada satu negeri pun kecuali akan didatangi oleh Dajjal.”(HR. Muslim) Namun, ada dua kota yang dikecualikan, yaitu Makkah dan Madinah, yang dijaga oleh malaikat dan tidak dapat dimasuki Dajjal. Tempat Dajjal Berdiri Saat Menghadapi Madinah Ketika Dajjal mendekati Madinah, ia tidak mampu masuk, lalu berdiri dan berhenti di luar kota, tepatnya di daerah tanah asin (sabkhat). Rasulullah ﷺ bersabda: فَيَنْزِلُ السَّبْخَةَ الَّتِي بِأَحُدٍ “Lalu Dajjal berhenti di tanah asin dekat Uhud.”(HR. Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: يَنْزِلُ بِسَبْخَةِ الْجُرْفِ “Dajjal akan berhenti di daerah Sabkhat Al-Jurf.”(HR. Muslim) 📍 Sabkhat Al-Jurf adalah wilayah di luar Madinah, bukan di dalam kota, dan hingga hari ini dikenal sebagai daerah dataran asin. Ketika Dajjal berhenti di tempat ini, Madinah akan mengalami guncangan hebat. Madinah Berguncang, Iman Disaring Rasulullah ﷺ bersabda: تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلَاثَ رَجَفَاتٍ “Madinah akan berguncang sebanyak tiga kali.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Guncangan ini menyebabkan orang-orang munafik keluar dari Madinah menuju Dajjal, sementara orang-orang beriman tetap tinggal dan dilindungi Allah ﷻ. Ringkasan Tempat Berdirinya Dajjal Berdasarkan hadis-hadis shahih, urutannya adalah: Dengan demikian, tempat berdirinya Dajjal ketika menghadapi Madinah adalah di luar kota Madinah, bukan di dalamnya. Pelajaran bagi Kaum Muslimin Informasi ini bukan untuk menimbulkan ketakutan, tetapi sebagai peringatan agar umat Islam memperkuat iman. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan perlindungan dari fitnah Dajjal melalui iman, ilmu, dan amal shalih. Beliau bersabda: مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ “Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.”(HR. Muslim) Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari fitnah Dajjal, meneguhkan iman hingga akhir hayat, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia dan akhirat. Referensi Ilmiah