PT. Zam Zam Tour & Travel

Keutamaan Memandangi Ka’bah

zamzamumroh.id – Ka’bah adalah bangunan paling mulia di muka bumi. Ia bukan sekadar kiblat bagi umat Islam, tetapi juga simbol tauhid dan pusat ibadah yang menyatukan jutaan hati kaum muslimin. Bagi jamaah umroh dan haji, berada di hadapan Ka’bah dan memandangnya secara langsung adalah nikmat yang sangat besar dan momen yang sulit dilupakan. Memandangi Ka’bah Termasuk Ibadah Para ulama menjelaskan bahwa memandangi Ka’bah termasuk ibadah, karena di dalamnya terdapat unsur dzikir, pengagungan terhadap syiar Allah, dan penguatan iman di dalam hati. Ketika seorang muslim memandang Ka’bah dengan penuh kekhusyukan, hatinya akan lebih mudah tersentuh untuk mengingat kebesaran Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman: ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ “Demikianlah, dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.”(QS. Al-Hajj: 32) Ka’bah termasuk syiar Allah yang paling agung. Oleh karena itu, memandangnya dengan penuh pengagungan merupakan bagian dari ketakwaan seorang hamba. Atsar Sahabat tentang Keutamaan Memandangi Ka’bah Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Memandangi Ka’bah adalah ibadah.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami adanya nilai ibadah dan pahala dalam memandang Ka’bah, selama dilakukan dengan niat yang benar dan hati yang hadir. Rasulullah ﷺ juga menanamkan kecintaan dan pengagungan terhadap Ka’bah. Dalam sebuah hadis, ketika Nabi ﷺ memandang Ka’bah, beliau bersabda: “Alangkah mulianya engkau dan alangkah mulianya kehormatanmu. Namun kehormatan seorang mukmin lebih mulia di sisi Allah daripada engkau.”(HR. At-Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa Ka’bah memiliki kemuliaan yang sangat besar di sisi Allah, sehingga memandangnya dapat menumbuhkan rasa hormat, cinta, dan kesadaran akan nilai iman dalam diri seorang muslim. Memandangi Ka’bah juga sering menjadi waktu terbaik untuk berdoa. Banyak jamaah merasakan ketenangan dan kekhusyukan yang mendalam ketika pertama kali melihat Ka’bah. Pada saat itu, hati menjadi lebih lembut dan doa lebih mudah terucap. Allah ﷻ berfirman: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabb-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian.”(QS. Ghafir: 60) Tidak ada adab khusus yang memberatkan saat memandang Ka’bah. Jamaah dianjurkan untuk menghadirkan rasa syukur, memperbanyak dzikir, dan memanfaatkan momen tersebut untuk memperbaiki niat serta memperkuat hubungan dengan Allah ﷻ. Sebagian ulama menganjurkan untuk berdoa ketika pertama kali melihat Ka’bah, karena saat itu hati sedang dalam kondisi yang paling lembut. Kesempatan memandang Ka’bah secara langsung adalah nikmat yang tidak dimiliki oleh semua orang. Oleh karena itu, jamaah hendaknya memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya, bukan hanya dengan memotret, tetapi juga dengan menghadirkan hati yang tunduk dan penuh pengagungan kepada Allah ﷻ. Semoga setiap jamaah yang diberi kesempatan memandang Ka’bah mendapatkan ketenangan hati, penguatan iman, serta keberkahan dalam hidupnya, dan dianugerahi umroh yang mabrur serta haji yang diterima. Referensi Ilmiah

Keutamaan Berdoa di Multazam

zamzamumroh.id – Saat berada di Tanah Suci, setiap jamaah umroh dan haji tentu merindukan momen terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Di antara sekian banyak tempat mulia di sekitar Ka’bah, terdapat satu tempat yang sejak dahulu dikenal sebagai lokasi mustajab untuk berdoa, yaitu Multazam. Multazam adalah bagian dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Panjangnya kurang lebih dua meter. Di tempat inilah para jamaah biasanya menempelkan dada, wajah, dan kedua tangan ke dinding Ka’bah, lalu memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati dan harapan besar kepada Allah ﷻ. Keutamaan Multazam Menurut Para Sahabat Keutamaan Multazam telah dikenal sejak masa para sahabat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa Multazam adalah tempat di mana doa-doa dipanjatkan dan diharapkan pengabulannya. Hal ini sejalan dengan janji Allah ﷻ tentang doa, sebagaimana firman-Nya: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabb-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian.”(QS. Ghafir: 60) Allah ﷻ juga memuliakan Ka’bah sebagai pusat ibadah dan doa bagi umat manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا “Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan Baitullah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.”(QS. Al-Baqarah: 125) Ayat ini menunjukkan bahwa Baitullah memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai tempat kembali kepada Allah, tempat beribadah, dan tempat memanjatkan doa, termasuk area Multazam yang berada di sisi Ka’bah. Hadis Rasulullah ﷺ tentang Doa sebagai Inti Ibadah Tidak ada waktu khusus yang ditentukan untuk berdoa di Multazam. Jamaah dapat melakukannya setelah thawaf, baik pada umroh wajib maupun umroh sunnah, selama kondisi memungkinkan. Rasulullah ﷺ juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa itu adalah inti dari ibadah.”(HR. At-Tirmidzi) Hadis ini mengingatkan bahwa setiap doa yang dipanjatkan, di mana pun dan kapan pun, termasuk di Multazam, merupakan bentuk ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ. Doa yang dipanjatkan di Multazam tidak dibatasi dengan lafaz tertentu. Setiap jamaah dipersilakan berdoa sesuai kebutuhan dan hajatnya masing-masing, baik memohon ampunan dosa, kebaikan dunia dan akhirat, maupun mendoakan keluarga dan kaum muslimin. Salah satu doa yang dianjurkan dalam Al-Qur’an adalah: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”(QS. Al-Baqarah: 201) Agar doa lebih bermakna, jamaah dianjurkan untuk menghadirkan kekhusyukan dan keyakinan penuh kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda: ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ “Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan.”(HR. At-Tirmidzi) Kesempatan berdoa di Multazam adalah nikmat yang sangat besar. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berdiri dan memanjatkan doa di tempat yang mulia ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati. Semoga setiap jamaah yang diberi kesempatan berdoa di Multazam mendapatkan keberkahan, dikabulkan hajat-hajatnya, serta dianugerahi umroh yang mabrur dan kehidupan yang lebih dekat dengan Allah ﷻ. Referensi Ilmiah

Keutamaan Berpuasa Sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah merupakan dua tempat paling mulia di muka bumi. Setiap ibadah yang dilakukan di kedua masjid ini memiliki keutamaan dan pahala yang besar di sisi Allah ﷻ. Di antara ibadah yang sangat dianjurkan bagi jamaah umroh dan haji adalah melaksanakan puasa sunnah selama berada di Tanah Suci. Keutamaan Puasa Sunnah di Tanah Suci Puasa sunnah merupakan ibadah yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Ketika puasa sunnah dilakukan di tempat yang penuh keberkahan seperti Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, maka nilai ibadah tersebut semakin besar. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah menumbuhkan ketakwaan. Puasa sunnah menjadi sarana tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan puasa sunnah dan menjelaskan keutamaannya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa di sisi Allah ﷻ, baik puasa wajib maupun puasa sunnah. Berpuasa sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga beriringan dengan keutamaan ibadah lainnya, seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa yang dilakukan di dua masjid suci tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya di dua masjid ini, maka ibadah puasa sunnah yang mengiringinya juga semakin bernilai besar di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang keutamaan puasa sunnah: مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بِهِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا “Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hikmah Puasa Sunnah di Tanah Haram Puasa sunnah yang dilakukan di Tanah Suci hendaknya diiringi dengan menjaga adab, kesehatan, dan kekhusyukan ibadah. Jamaah dianjurkan untuk memilih jenis puasa sunnah yang sesuai kemampuan, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, atau puasa Daud bagi yang mampu. Kesempatan berpuasa sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram adalah nikmat besar. Tidak semua orang bisa menjalankan ibadah ini di tempat yang penuh keberkahan. Oleh karena itu, hendaknya jamaah memanfaatkan waktu di Tanah Suci dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Semoga Allah ﷻ menerima setiap puasa sunnah yang dilakukan, melipatgandakan pahalanya, serta menganugerahkan keberkahan, ampunan, dan ketakwaan dalam kehidupan. Referensi Ilmiah

Keutamaan dan Pahala Bersedekah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah adalah dua tempat paling mulia dalam Islam. Setiap ibadah yang dilakukan di kedua masjid ini memiliki keutamaan dan pahala yang berlipat ganda. Di antara amalan yang sangat dianjurkan ketika berada di dua tanah suci tersebut adalah bersedekah. Pahala Sedekah yang Dilipatgandakan oleh Allah Sedekah bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ. Ketika sedekah dilakukan di tempat yang mulia dan pada waktu yang penuh keberkahan, maka pahalanya pun semakin besar. Allah ﷻ berfirman: مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah di jalan Allah akan dilipatgandakan pahalanya dengan kelipatan yang sangat besar, apalagi jika dilakukan di tempat yang paling dicintai Allah. Sedekah sebagai Bukti Keimanan Seorang Muslim Rasulullah ﷺ bersabda: الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ “Sedekah adalah bukti (keimanan).”(HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah merupakan bukti keimanan seorang hamba kepada Allah ﷻ dan keyakinannya terhadap balasan di akhirat. Masjid Nabawi dan Masjidil Haram memiliki keutamaan yang tidak dimiliki masjid lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya di dua masjid ini, maka para ulama menjelaskan bahwa amalan kebaikan lainnya, termasuk sedekah, juga memiliki keutamaan yang besar ketika dilakukan di tempat tersebut. Sedekah yang diberikan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak, seperti jamaah yang membutuhkan, petugas masjid, program sosial, serta berbagai kegiatan kemaslahatan umat. Setiap manfaat yang timbul dari sedekah tersebut akan menjadi tambahan pahala bagi orang yang bersedekah. Rasulullah ﷺ juga bersabda: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”(HR. Muslim) Hadis ini memberikan ketenangan bagi kaum muslimin bahwa sedekah tidak akan mengurangi rezeki, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan. Selain itu, sedekah termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir, terutama jika digunakan untuk kepentingan umum dan kemaslahatan umat. Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ “… kecuali dari sedekah jariyah …”(HR. Muslim) Bersedekah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dengan niat ikhlas dapat menjadi investasi akhirat yang sangat berharga. Setiap rupiah yang dikeluarkan, sekecil apa pun, insyaAllah akan dibalas dengan pahala yang besar dan keberkahan hidup. Semoga Allah ﷻ menerima setiap sedekah yang diberikan di dua masjid suci ini, melipatgandakan pahalanya, membersihkan harta, dan menjadikannya sebagai sebab turunnya rahmat dan ampunan-Nya. Referensi Ilmiah

Keutamaan Mengusap Rukun Yamani

zamzamumroh.id – Dalam rangkaian ibadah thawaf di Masjidil Haram, terdapat amalan-amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar, salah satunya adalah mengusap Rukun Yamani. Rukun Yamani adalah salah satu sudut Ka’bah yang terletak sebelum Hajar Aswad jika memulai thawaf dari arah Hajar Aswad. Dalil Hadis Tentang Sunnah Mengusap Rukun Yamani Mengusap Rukun Yamani merupakan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ dan mengandung pahala serta keberkahan bagi jamaah yang melakukannya sesuai tuntunan. Rasulullah ﷺ bersabda: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَدَعُ أَنْ يَسْتَلِمَ الرُّكْنَ الْيَمَانِيَّ وَالْحَجَرَ الْأَسْوَدَ فِي كُلِّ طَوَافٍ “Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan untuk mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad dalam setiap thawaf.”(HR. Ahmad) Mengusap Rukun Yamani Termasuk Sunnah Muakkadah Hadis ini menunjukkan bahwa mengusap Rukun Yamani adalah sunnah muakkadah, selama jamaah mampu melakukannya tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain. Keutamaan mengusap Rukun Yamani juga disebutkan dalam hadis yang menjelaskan penghapusan dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ مَسْحَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ وَالرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ يَحُطَّانِ الْخَطَايَا حَطًّا “Sesungguhnya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menggugurkan dosa-dosa.”(HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan bahwa amalan sederhana seperti mengusap Rukun Yamani memiliki dampak besar dalam membersihkan dosa, selama dilakukan dengan keimanan dan keikhlasan. Berbeda dengan Hajar Aswad yang disunnahkan untuk dicium atau diusap dan diberi isyarat jika tidak mampu, Rukun Yamani hanya disunnahkan untuk diusap dengan tangan. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya karena kondisi padat, maka jamaah tidak disunnahkan untuk memberi isyarat, tetapi cukup melewatinya sambil berdzikir. Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: مَا تَرَكْتُ اسْتِلَامَ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَسْتَلِمُهُمَا “Aku tidak pernah meninggalkan mengusap dua rukun ini sejak aku melihat Rasulullah ﷺ mengusap keduanya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Rukun Yamani terletak pada fakta bahwa sudut ini berada di atas pondasi asli Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام, sehingga memiliki kedudukan khusus dibandingkan dua rukun lainnya. Namun, penting untuk diingat bahwa kesempurnaan thawaf tidak bergantung pada mengusap Rukun Yamani. Thawaf tetap sah meskipun tidak mengusapnya. Yang lebih utama adalah menjaga keselamatan, ketertiban, dan kekhusyukan ibadah. Mengusap Rukun Yamani hendaknya dilakukan dengan penuh adab, tanpa dorong-dorongan, serta diiringi dengan doa dan dzikir. Doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (HR. Abu Dawud) Semoga Allah ﷻ menerima setiap thawaf yang kita lakukan, mengampuni dosa-dosa kita melalui amalan sunnah ini, dan menjadikan ibadah di Masjidil Haram sebagai sebab turunnya rahmat dan keberkahan. Referensi Ilmiah