PT. Zam Zam Tour & Travel

Masjid Quba di Madinah: Masjid Pertama dalam Sejarah Islam yang Didirikan atas Dasar Takwa

zamzamumroh.id – Ketika matahari pagi menyinari lembah Madinah dan menampakkan kubah putih yang bersinar lembut di kejauhan, itulah Masjid Quba di Madinah — masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam dan tempat yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ. Masjid ini berdiri di kawasan Quba, sekitar 3 kilometer di selatan Masjid Nabawi. Saat Rasulullah ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau singgah di daerah Quba selama empat hari — dari Senin hingga Kamis — sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat kota Madinah. Dalam waktu singkat itu, beliau bersama para sahabat membangun masjid sederhana dari batu dan tanah liat. Masjid inilah yang dikenal sebagai Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan atas dasar takwa. Masjid yang Diberkahi dalam Al-Qur’an Allah ﷻ memuliakan Masjid Quba di Madinah dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 108: “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya.” Ayat ini dipahami oleh para ulama sebagai pujian langsung kepada Masjid Quba. Rasulullah ﷺ sangat mencintai masjid ini; dalam hadis disebutkan bahwa beliau sering mengunjunginya setiap hari Sabtu untuk shalat dua rakaat di sana, baik berjalan kaki maupun berkendara. Beliau bersabda: “Barang siapa berwudhu di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan shalat dua rakaat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah.”(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi) Keutamaan dan Nilai Spiritual Masjid Quba Keutamaan Masjid Quba di Madinah menjadikannya salah satu tujuan utama para jamaah haji dan umrah. Setiap peziarah yang datang ke Madinah hampir pasti mengunjungi masjid ini, melaksanakan dua rakaat shalat sunnah dengan harapan memperoleh pahala umrah sebagaimana sabda Nabi ﷺ. Suasana di Masjid Quba terasa damai dan menenangkan. Berbeda dengan keramaian Masjid Nabawi, di sini jamaah bisa beribadah dengan lebih khusyuk — banyak yang duduk berlama-lama membaca Al-Qur’an atau berdoa di bawah langit Madinah yang cerah. Arsitektur dan Renovasi Masjid Quba Sepanjang sejarah, Masjid Quba di Madinah telah mengalami berbagai renovasi besar. Meski modern, masjid ini tetap mempertahankan kesederhanaan dan ketenangan khas Rasulullah ﷺ. Masjid Quba, Simbol Awal Peradaban Islam Lebih dari sekadar bangunan tua, Masjid Quba di Madinah adalah simbol awal dari peradaban Islam. Di sinilah Rasulullah ﷺ memulai kehidupan baru umat Islam — membangun masyarakat yang berlandaskan iman, persaudaraan, dan ketakwaan. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Madinah, Masjid Quba bukan hanya tempat untuk shalat dua rakaat, tetapi tempat untuk merasakan jejak langkah pertama Rasulullah ﷺ dalam menegakkan Islam di tanah hijrah. 📚 Referensi

Makam Baqi: Jejak Para Ahlul Bait dan Sahabat di Tanah Suci Madinah

zamzamumroh.id – Tidak jauh dari Masjid Nabawi di Madinah, terdapat satu tempat yang membuat langkah setiap peziarah melambat dan hati terasa bergetar — Makam Baqi di Madinah, atau yang dikenal juga sebagai Jannatul Baqi’. Tanah suci ini sunyi, namun menyimpan sejarah panjang Islam dan menjadi tempat peristirahatan bagi ribuan sahabat Rasulullah ﷺ. Sejarah Awal Jannatul Baqi Baqi bukan sekadar pemakaman biasa. Ia adalah lembaran sejarah nyata umat Islam. Di sinilah dikuburkan banyak orang yang paling dicintai Rasulullah ﷺ — termasuk keluarga beliau, sahabat utama, dan para tokoh besar Islam.Menurut sejarah, kawasan Makam Baqi di Madinah sudah digunakan sejak tahun pertama Hijriah, ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah. Orang pertama yang dimakamkan di sana adalah Utsman bin Mazh’un, sahabat mulia yang sangat dekat dengan Nabi. Rasulullah ﷺ sendiri menandai makamnya dengan batu — sejak saat itu, Baqi menjadi pemakaman kaum Muslimin Madinah. Siapa Saja yang Dimakamkan di Makam Baqi? Seiring waktu, banyak tokoh besar Islam dimakamkan di Makam Baqi di Madinah, seperti: Nama lengkap tempat ini adalah Jannatul Baqi al-Gharqad, yang berarti “Taman Surga dari Pohon Gharqad”. Meski kini tak lagi dipenuhi pepohonan, Rasulullah ﷺ pernah menyebut tempat ini sebagai taman surga karena para penghuninya adalah orang-orang saleh. Perubahan dan Arsitektur Baqi Dari sisi sejarah arsitektur, Makam Baqi di Madinah pernah mengalami berbagai perubahan. Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, beberapa makam utama dibangun dengan kubah. Namun, pada tahun 1925, bangunan-bangunan itu diratakan demi menjaga kemurnian tauhid dan menghindari pengkultusan kubur. Kini, Baqi tampil sederhana — hanya berupa gundukan tanah dengan batu penanda, mencerminkan kesederhanaan dan kekhusyukan Islam. Makam Baqi, Simbol Kesetiaan dan Keimanan Hingga kini, Makam Baqi di Madinah menjadi tempat ziarah spiritual yang penuh makna. Setiap hari, ribuan jamaah berjalan kaki dari Masjid Nabawi menuju pagar besi Baqi untuk mendoakan para penghuni makam. Berdiri di sana membuat setiap hati bergetar — seolah menyadari bahwa mereka yang paling mulia pun akhirnya kembali kepada Allah. Makam Baqi bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga pengingat tentang kefanaan dunia dan pentingnya menjaga iman. Di balik kesunyian itu, seakan terdengar pesan lembut: setiap yang hidup pasti akan kembali kepada Sang Pencipta. Kesimpulan Makam Baqi di Madinah adalah saksi sejarah Islam dan tempat istimewa bagi para sahabat, keluarga, serta keturunan Rasulullah ﷺ. Kesederhanaannya justru menambah kekhusyukan, menjadikannya salah satu tempat paling berharga di dunia Islam. Bagi setiap peziarah, berdiri di hadapan Baqi adalah pengalaman spiritual yang tak terlupakan.

Fakta Menarik Karpet di Masjid Nabawi

Fakta Menarik Karpet Masjid Nabawi

zamzamumroh.id – Ketika seseorang pertama kali melangkah masuk ke dalam Masjid Nabawi di Madinah, hal pertama yang memukau mata bukan hanya kemegahan kubah dan tiang-tiang putihnya, tetapi juga hamparan karpet merah lembut yang menutupi seluruh lantainya. Karpet bukan sekadar alas untuk bersujud, melainkan bagian penting dari kenyamanan, keindahan, dan keagungan rumah Rasulullah ﷺ. Sejarah dan Pembuatan Karpet Masjid Nabawi Setiap helai karpet Masjid Nabawi diproduksi khusus di Arab Saudi menggunakan teknologi modern dan bahan berkualitas tinggi. Warna karpet yang menenangkan baik hijau maupun merah dipilih dengan penuh makna. Warna hijau dipercaya memberikan ketenangan dan fokus bagi jamaah dalam beribadah, serta menciptakan suasana hangat dan sakral di tengah kemegahan interior masjid. Menurut data resmi Presidensi Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, lebih dari 100.000 meter persegi karpet digunakan di seluruh area shalat, baik di dalam ruangan maupun di pelataran tertutup. Setiap karpet dirancang agar mudah dilepas, dibersihkan, dan diganti bila rusak. Pabrik Khusus Semua karpet Masjid Nabawi dibuat di Madinah Carpet Factory, pabrik eksklusif di bawah pengawasan pemerintah Saudi. Pabrik ini hanya memproduksi karpet untuk dua masjid suci: Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Setiap karpet memiliki nomor identifikasi unik yang tercatat dalam sistem komputer, sehingga petugas kebersihan tahu lokasi pasti karpet tersebut dipasang. Bahkan, mereka dapat mengetahui karpet mana yang digunakan di area Raudhah Asy-Syarifah, di dekat makam Rasulullah ﷺ, atau di area lainnya. Proses Pembersihan dan Perawatan Karpet Pembersihan karpet Masjid Nabawi dilakukan setiap hari oleh ratusan petugas khusus. Prosesnya meliputi penyedotan debu menggunakan mesin vakum besar, penyemprotan wewangian khas Madinah, dan penyikatan lembut agar serat karpet tetap halus. Karpet yang perlu dicuci dibawa ke pabrik, di mana ia dibersihkan menggunakan air yang telah difilter dan diberi wewangian alami. Proses pencucian satu karpet bisa memakan waktu hingga tiga jam, diikuti pengeringan selama 24 jam penuh sebelum kembali dipasang. Karpet Hijau di Raudhah: Simbol Kesucian Salah satu ciri khas paling dikenal adalah karpet hijau di area Raudhah Asy-Syarifah area antara mimbar dan makam Rasulullah ﷺ yang disebut sebagai taman surga di bumi. Warna hijau membedakan area suci ini dari area lain yang umumnya berwarna merah. Karpet Raudhah dibuat lebih tebal dan halus dari wol pilihan, dengan pola khas yang menandai batas area suci itu. Desain Islami yang Sarat Makna Desain karpet dibuat dengan pola geometris Islami tanpa gambar makhluk hidup, sesuai dengan prinsip seni Islam. Pola ini bukan hanya untuk keindahan, tetapi juga berfungsi sebagai penunjuk arah saf shalat, sehingga jamaah dapat meluruskan barisan tanpa garis cat di lantai. Simbol Keramahan dan Kedamaian Madinah Kelembutan karpet Masjid Nabawi telah menjadi simbol keramahan kota Madinah itu sendiri. Ribuan jamaah setiap hari duduk, berdoa, membaca Al-Qur’an, atau beristirahat di atasnya. Di karpet yang sama, para ulama mengajar, anak-anak belajar mengaji, dan jutaan hati menemukan kedamaian. Setiap kali seseorang bersujud di atas karpet, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Di bawah serat halus itu tersimpan sejarah panjang — dari masa Rasulullah ﷺ yang shalat di atas tanah berdebu, hingga kini jutaan umat Islam bersujud di tempat yang sama dengan penuh cinta. Karpet di Masjid Nabawi bukan sekadar benda. Ia adalah saksi diam dari doa, air mata, dan kerinduan umat Islam dari seluruh dunia yang datang menuju satu tempat: rumah Rasulullah ﷺ di Madinah.

Makam Rasulullah di Masjid Nabawi: Rindu dan Kehormatan Abadi

Sejarah Makam Rasulullah di Masjid Nabawi zamzamumroh.id – Makam Rasulullah ﷺ terletak di dalam kompleks Masjid Nabawi, tepatnya di sudut tenggara, di tempat yang dahulu merupakan rumah beliau bersama istrinya, Aisyah radhiyallāhu ‘anhā. Rumah itu sangat sederhana — berdinding bata dari tanah liat, beratap pelepah kurma, dan berlantai pasir.Di tempat kecil inilah Nabi ﷺ hidup dengan penuh kesederhanaan, beribadah, berdoa, dan menerima wahyu dari Allah ﷻ. Ketika Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal tahun 11 Hijriah (8 Juni 632 M), para sahabat berdiskusi tentang lokasi pemakaman beliau. Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian menyampaikan sabda Nabi ﷺ: “Tidaklah seorang nabi meninggal, kecuali dimakamkan di tempat ia wafat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).Maka para sahabat sepakat memakamkan beliau di tempat beliau menghembuskan napas terakhir — di kamar Aisyah. Proses Pemakaman Rasulullah ﷺ Pemakaman dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kesedihan yang mendalam. Jenazah Rasulullah ﷺ dimakamkan dengan posisi kepala menghadap ke utara dan wajah menghadap kiblat. Setelah pemakaman selesai, rumah Aisyah tetap berdiri sebagaimana adanya.Aisyah radhiyallāhu ‘anhā tinggal di sana selama beberapa tahun dan selalu menutup diri dengan kain penutup ketika memasuki ruang makam, karena di sanalah bersemayam suaminya yang mulia. Makam Abu Bakar dan Umar di Samping Rasulullah ﷺ Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada tahun 13 Hijriah, beliau dimakamkan di samping Makam Rasulullah di Masjid Nabawi, sesuai wasiatnya. Di sebelahnya kemudian dimakamkan Umar bin al-Khaththab pada tahun 23 Hijriah, setelah mendapat izin dari Aisyah.Bersisianlah tiga sosok agung itu — Nabi Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar — dalam satu ruang kecil yang dikenal sebagai Hujrah Asy-Syarifah (Kamar yang Mulia). Perluasan Masjid Nabawi dan Perlindungan Makam Pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah (707–710 M), Masjid Nabawi diperluas besar-besaran. Rumah Nabi ﷺ dan ruang makam dimasukkan ke area masjid, dengan penuh kehati-hatian agar kehormatannya tidak terganggu.Dinding tinggi dan berlapis dibangun mengelilingi ruang makam tanpa pintu masuk, sehingga tidak seorang pun dapat menjangkau langsung area tersebut. Struktur pelindung ini bertahan hingga kini. Perawatan dari Masa ke Masa Selama masa Abbasiyah, Mamluk, hingga Ottoman, berbagai pemeliharaan dilakukan untuk menjaga kekokohan dan kehormatan makam. Sultan Qaitbay dari Mesir menambahkan pagar besi indah pada abad ke-15.Pada masa Kesultanan Utsmani, Sultan Mahmud II dan Sultan Abdul Majid memperindah bagian luar dengan kaligrafi Al-Qur’an dan ukiran geometris khas Islam. Kubah Hijau: Simbol Kasih dan Kehormatan Kubah pertama di atas ruang makam dibangun pada masa Mamluk, lalu diperkuat oleh para penguasa Ottoman hingga menjadi Kubah Hijau (Green Dome) yang kita kenal saat ini.Namun, penghormatan umat Islam bukan pada kubahnya, melainkan kepada pribadi agung di bawahnya — Rasulullah ﷺ, pembawa risalah terakhir dari Allah. Struktur dan Area Makam Rasulullah ﷺ Ruang makam tidak dapat dilihat langsung oleh jamaah. Dari dalam masjid, yang tampak hanyalah pagar besi berwarna hijau keemasan dengan lubang kecil berpola.Di balik pagar itu terdapat dinding tebal, dan di balik dinding itu lagi barulah ruang makam sebenarnya. Tidak ada pintu masuk bagi siapa pun; bahkan pengurus Masjid Nabawi pun tidak memasukinya, kecuali untuk pemeriksaan teknis dengan penghormatan luar biasa. Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ Setiap hari, jutaan umat Islam dari seluruh dunia datang ke Makam Rasulullah di Masjid Nabawi untuk mengucapkan salam kepada Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Mereka tidak berdoa kepada makam, tetapi kepada Allah, dengan menghadirkan cinta kepada Rasul-Nya.Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud) Pemeliharaan Modern oleh Pemerintah Saudi Pemerintah Arab Saudi hingga kini menjaga Makam Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Perawatan dilakukan tanpa mengubah bentuk aslinya.Keamanan, kebersihan, dan pencahayaan dijaga ketat agar area ini tetap suci dan damai bagi seluruh jamaah. Makna Spiritual Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ Bagi umat Islam, berdiri di hadapan Makam Rasulullah di Masjid Nabawi bukan sekadar ziarah, melainkan perjumpaan spiritual yang mendalam. Di sanalah air mata rindu mengalir, doa dipanjatkan, dan cinta kepada Nabi ﷺ diperbarui.Makam ini bukan hanya tempat peristirahatan, tetapi simbol kehidupan yang mengajarkan kasih, keikhlasan, dan pengabdian kepada Allah. Referensi

Raudhah Masjid Nabawi : Taman Surga di Dunia yang Dipenuhi Keberkahan

Pengantar zamzamumroh.id – Raudhah adalah salah satu tempat paling mulia di Masjid Nabawi dan di seluruh muka bumi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).Dari hadis inilah tempat itu dikenal dengan nama ar-Raudhah asy-Syarifah, yang berarti taman yang mulia. Lokasinya berada di antara rumah Nabi ﷺ — tempat beliau dimakamkan — dan mimbar tempat beliau berdiri menyampaikan khutbah. Makna dan Asal Nama Raudhah Masjid Nabawi Nama Raudhah Masjid Nabawi berasal dari hadis Nabi ﷺ yang menggambarkan area tersebut sebagai taman surga. Kata raudhah sendiri berarti taman atau kebun yang hijau dan menenangkan. Karena keutamaannya, area ini dikenal sebagai tempat yang penuh keberkahan dan doa yang mustajab. Letak dan Ukuran Secara fisik, Raudhah terletak di antara kamar Nabi ﷺ (tempat beliau dimakamkan) dan mimbar tempat beliau menyampaikan khutbah. Panjangnya sekitar 22 meter dan lebarnya 15 meter.Meskipun tidak luas, maknanya sangat besar bagi umat Islam. Di area inilah para jamaah berdoa dengan penuh kekhusyukan, memohon ampunan, dan mengungkapkan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Sejarah Raudhah pada Masa Rasulullah ﷺ Pada masa Rasulullah ﷺ, bagian ini merupakan area dalam Masjid Nabawi yang digunakan untuk beribadah, belajar, dan menerima tamu. Dinding dan tiangnya sederhana, beratap pelepah kurma, namun di sanalah para sahabat mendengar wahyu, belajar Al-Qur’an, dan memperkuat iman mereka.Raudhah Masjid Nabawi menjadi saksi kehidupan spiritual umat Islam di masa awal Islam, tempat di mana ilmu dan keimanan tumbuh bersama. Perkembangan dan Pemeliharaan Seiring berjalannya waktu, Masjid Nabawi mengalami perluasan dari masa ke masa, namun area Raudhah tetap dipertahankan keasliannya. Pemerintah Islam dari masa Mamluk, Ottoman, hingga Saudi menjaga dan memeliharanya dengan penuh kehormatan.Kini, pengunjung Raudhah Masjid Nabawi diatur dengan sistem waktu dan jumlah tertentu agar setiap jamaah bisa beribadah dengan tenang dan tertib. Ciri Khas Ciri paling mudah dikenali dari Raudhah Masjid Nabawi adalah karpetnya yang berwarna hijau, berbeda dengan karpet merah di bagian lain masjid. Warna hijau ini menjadi penanda area taman surga, tempat banyak orang salat dua rakaat, berdoa, dan menangis dengan haru.Ziarah ke Raudhah bukanlah ibadah wajib, namun menjadi bentuk cinta dan kerinduan umat kepada Rasulullah ﷺ. Nilai Spiritual dan Makna Ziarah ke Raudhah Raudhah Masjid Nabawi bukan sekadar ruang bersejarah. Ia adalah tempat yang menghubungkan hati umat Islam dengan Rasulullah ﷺ. Di sinilah doa-doa tulus naik ke langit, di mana cinta kepada Allah dan Rasul berpadu dalam keheningan yang menenangkan.Bagi banyak jamaah, bisa salat dan berdoa di Raudhah merupakan pengalaman spiritual yang mendalam — seolah benar-benar berada di taman surga yang dijanjikan. Penutup Selama berabad-abad, Raudhah Masjid Nabawi tetap menjadi simbol kedekatan umat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Di tempat ini, sejarah, cinta, dan doa berpadu menjadi satu. Setiap langkah di Raudhah adalah pengingat bahwa surga tidak hanya di akhirat, tetapi juga dapat dirasakan di dunia — melalui ketenangan hati yang lahir dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Referensi