Keutamaan Berdoa di Multazam

zamzamumroh.id – Saat berada di Tanah Suci, setiap jamaah umroh dan haji tentu merindukan momen terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Di antara sekian banyak tempat mulia di sekitar Ka’bah, terdapat satu tempat yang sejak dahulu dikenal sebagai lokasi mustajab untuk berdoa, yaitu Multazam. Multazam adalah bagian dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Panjangnya kurang lebih dua meter. Di tempat inilah para jamaah biasanya menempelkan dada, wajah, dan kedua tangan ke dinding Ka’bah, lalu memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati dan harapan besar kepada Allah ﷻ. Keutamaan Multazam Menurut Para Sahabat Keutamaan Multazam telah dikenal sejak masa para sahabat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa Multazam adalah tempat di mana doa-doa dipanjatkan dan diharapkan pengabulannya. Hal ini sejalan dengan janji Allah ﷻ tentang doa, sebagaimana firman-Nya: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “Dan Rabb-mu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian.”(QS. Ghafir: 60) Allah ﷻ juga memuliakan Ka’bah sebagai pusat ibadah dan doa bagi umat manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا “Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan Baitullah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.”(QS. Al-Baqarah: 125) Ayat ini menunjukkan bahwa Baitullah memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai tempat kembali kepada Allah, tempat beribadah, dan tempat memanjatkan doa, termasuk area Multazam yang berada di sisi Ka’bah. Hadis Rasulullah ﷺ tentang Doa sebagai Inti Ibadah Tidak ada waktu khusus yang ditentukan untuk berdoa di Multazam. Jamaah dapat melakukannya setelah thawaf, baik pada umroh wajib maupun umroh sunnah, selama kondisi memungkinkan. Rasulullah ﷺ juga bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ “Doa itu adalah inti dari ibadah.”(HR. At-Tirmidzi) Hadis ini mengingatkan bahwa setiap doa yang dipanjatkan, di mana pun dan kapan pun, termasuk di Multazam, merupakan bentuk ibadah yang sangat dicintai oleh Allah ﷻ. Doa yang dipanjatkan di Multazam tidak dibatasi dengan lafaz tertentu. Setiap jamaah dipersilakan berdoa sesuai kebutuhan dan hajatnya masing-masing, baik memohon ampunan dosa, kebaikan dunia dan akhirat, maupun mendoakan keluarga dan kaum muslimin. Salah satu doa yang dianjurkan dalam Al-Qur’an adalah: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”(QS. Al-Baqarah: 201) Agar doa lebih bermakna, jamaah dianjurkan untuk menghadirkan kekhusyukan dan keyakinan penuh kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda: ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ “Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan.”(HR. At-Tirmidzi) Kesempatan berdoa di Multazam adalah nikmat yang sangat besar. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berdiri dan memanjatkan doa di tempat yang mulia ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati. Semoga setiap jamaah yang diberi kesempatan berdoa di Multazam mendapatkan keberkahan, dikabulkan hajat-hajatnya, serta dianugerahi umroh yang mabrur dan kehidupan yang lebih dekat dengan Allah ﷻ. Referensi Ilmiah
Keutamaan Berpuasa Sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah merupakan dua tempat paling mulia di muka bumi. Setiap ibadah yang dilakukan di kedua masjid ini memiliki keutamaan dan pahala yang besar di sisi Allah ﷻ. Di antara ibadah yang sangat dianjurkan bagi jamaah umroh dan haji adalah melaksanakan puasa sunnah selama berada di Tanah Suci. Keutamaan Puasa Sunnah di Tanah Suci Puasa sunnah merupakan ibadah yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan. Ketika puasa sunnah dilakukan di tempat yang penuh keberkahan seperti Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, maka nilai ibadah tersebut semakin besar. Allah ﷻ berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah menumbuhkan ketakwaan. Puasa sunnah menjadi sarana tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan puasa sunnah dan menjelaskan keutamaannya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa di sisi Allah ﷻ, baik puasa wajib maupun puasa sunnah. Berpuasa sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram juga beriringan dengan keutamaan ibadah lainnya, seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan doa yang dilakukan di dua masjid suci tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah shalat saja dilipatgandakan pahalanya di dua masjid ini, maka ibadah puasa sunnah yang mengiringinya juga semakin bernilai besar di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang keutamaan puasa sunnah: مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بِهِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا “Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hikmah Puasa Sunnah di Tanah Haram Puasa sunnah yang dilakukan di Tanah Suci hendaknya diiringi dengan menjaga adab, kesehatan, dan kekhusyukan ibadah. Jamaah dianjurkan untuk memilih jenis puasa sunnah yang sesuai kemampuan, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, atau puasa Daud bagi yang mampu. Kesempatan berpuasa sunnah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram adalah nikmat besar. Tidak semua orang bisa menjalankan ibadah ini di tempat yang penuh keberkahan. Oleh karena itu, hendaknya jamaah memanfaatkan waktu di Tanah Suci dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Semoga Allah ﷻ menerima setiap puasa sunnah yang dilakukan, melipatgandakan pahalanya, serta menganugerahkan keberkahan, ampunan, dan ketakwaan dalam kehidupan. Referensi Ilmiah
Keutamaan Waqaf Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

zamzamumroh.id – Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah adalah dua masjid paling mulia dalam Islam. Keduanya bukan hanya menjadi pusat ibadah shalat, tetapi juga tempat berkumpulnya jutaan kaum muslimin untuk membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Oleh karena itu, waqaf Al-Qur’an di dua masjid suci ini termasuk amal jariyah yang memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar. Pengertian Waqaf Al-Qur’an dan Manfaatnya bagi Umat Waqaf Al-Qur’an berarti menyerahkan mushaf Al-Qur’an untuk dimanfaatkan oleh jamaah secara umum, baik untuk dibaca, dihafalkan, maupun dipelajari. Selama mushaf tersebut dibaca dan dimanfaatkan, pahala akan terus mengalir kepada orang yang mewaqafkannya, meskipun ia telah kembali ke tanah air atau bahkan telah wafat. Allah ﷻ berfirman: إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”(QS. Al-Isra’: 9) Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber hidayah. Membantu agar Al-Qur’an mudah diakses dan dibaca oleh kaum muslimin termasuk bentuk kontribusi besar dalam menyebarkan hidayah Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Al-Bukhari) Waqaf Al-Qur’an termasuk bagian dari mengajarkan Al-Qur’an, karena dengan waqaf tersebut, seseorang telah memudahkan orang lain untuk membaca dan mempelajari kitab Allah. Pahala Berlipat dari Amal Waqaf di Dua Masjid Suci Masjid Nabawi dan Masjidil Haram memiliki keutamaan khusus dibandingkan masjid lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim) Karena ibadah di dua masjid ini dilipatgandakan pahalanya, maka amal waqaf yang dilakukan di dalamnya pun memiliki keutamaan yang besar, terutama jika waqaf tersebut dimanfaatkan oleh ribuan bahkan jutaan jamaah dari seluruh dunia. Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang amal yang pahalanya terus mengalir: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”(HR. Muslim) Waqaf Al-Qur’an termasuk sedekah jariyah dan juga sarana tersebarnya ilmu yang bermanfaat. Selama mushaf tersebut dibaca, dipelajari, dan diamalkan, pahala akan terus mengalir tanpa terputus. Selain pahala yang besar, waqaf Al-Qur’an di dua masjid suci ini juga menjadi bentuk kepedulian dan kontribusi nyata seorang muslim terhadap umat Islam secara global. Mushaf yang diwaqafkan dapat dibaca oleh jamaah dari berbagai negara, latar belakang, dan bahasa. Hikmah dan Keberkahan Waqaf Al-Qur’an di Dua Tanah Suci Oleh karena itu, bagi jamaah umroh dan haji, waqaf Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Dengan niat yang ikhlas, waqaf ini dapat menjadi investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir hingga hari kiamat. Semoga Allah ﷻ menerima amal waqaf Al-Qur’an yang dilakukan, melipatgandakan pahalanya, dan menjadikannya sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari akhir kelak. Referensi Ilmiah
Keutamaan Berziarah ke Makam Rasulullah ﷺ

zamzamumroh.id – Berziarah ke makam Rasulullah ﷺ di Madinah merupakan salah satu amalan yang sangat mulia dan penuh makna bagi kaum muslimin. Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk menumbuhkan kecintaan, penghormatan, dan keteladanan kepada Rasulullah ﷺ. Keutamaan Masjid Nabawi sebagai Tempat Mulia Makam Rasulullah ﷺ berada di Masjid Nabawi, masjid yang memiliki keutamaan besar. Ketika seorang muslim berziarah ke makam beliau, hendaknya dilakukan dengan penuh adab, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan syariat. Allah ﷻ berfirman: وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا “Dan sungguh, sekiranya mereka ketika menzalimi diri mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nisa: 64) Ayat ini menunjukkan anjuran untuk mendatangi Rasulullah ﷺ sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap kedudukan beliau, yang oleh para ulama dipahami sebagai dalil keutamaan berziarah ke makam beliau setelah wafat. Hadis-Hadis tentang Keutamaan Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي “Barang siapa menziarahi kuburku, maka ia berhak mendapatkan syafaatku.”(HR. Ad-Daraquthni) Hadis ini—yang oleh sebagian ulama dinilai memiliki kelemahan sanad namun dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain—sering dijadikan dasar oleh para ulama tentang keutamaan ziarah ke makam Rasulullah ﷺ. Dalam hadis lain disebutkan: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ عِنْدَ قَبْرِي سَمِعْتُهُ “Barang siapa bershalawat kepadaku di dekat kuburku, maka aku mendengarnya.”(HR. Al-Baihaqi) Ziarah ke makam Rasulullah ﷺ juga menjadi sarana untuk memperbanyak shalawat. Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”(HR. Muslim) Keutamaan lain dari ziarah ke makam Rasulullah ﷺ adalah mengingatkan seorang muslim akan kehidupan akhirat dan memperkuat komitmen untuk mengikuti sunnah beliau. Ziarah bukan untuk meminta kepada selain Allah, tetapi sebagai bentuk cinta, penghormatan, dan doa. Rasulullah ﷺ bersabda: كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian.”(HR. Muslim) Ziarah ke makam Rasulullah ﷺ hendaknya dilakukan dengan adab: mengucapkan salam, bershalawat, mendoakan beliau, dan tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan tauhid. Hikmah Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ bagi Kehidupan Muslim Semoga Allah ﷻ memberikan kesempatan kepada kita untuk berziarah ke makam Rasulullah ﷺ dengan penuh adab dan keikhlasan, menumbuhkan kecintaan kepada beliau, serta mendapatkan syafaatnya di hari kiamat. Referensi Ilmiah Al-Qadhi ‘Iyadh, Asy-Syifa’
