PT. Zam Zam Tour & Travel

Makam Rasulullah di Masjid Nabawi: Rindu dan Kehormatan Abadi

Sejarah Makam Rasulullah di Masjid Nabawi

zamzamumroh.id – Makam Rasulullah ﷺ terletak di dalam kompleks Masjid Nabawi, tepatnya di sudut tenggara, di tempat yang dahulu merupakan rumah beliau bersama istrinya, Aisyah radhiyallāhu ‘anhā. Rumah itu sangat sederhana — berdinding bata dari tanah liat, beratap pelepah kurma, dan berlantai pasir.
Di tempat kecil inilah Nabi ﷺ hidup dengan penuh kesederhanaan, beribadah, berdoa, dan menerima wahyu dari Allah ﷻ.

Ketika Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal tahun 11 Hijriah (8 Juni 632 M), para sahabat berdiskusi tentang lokasi pemakaman beliau. Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian menyampaikan sabda Nabi ﷺ:

“Tidaklah seorang nabi meninggal, kecuali dimakamkan di tempat ia wafat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Maka para sahabat sepakat memakamkan beliau di tempat beliau menghembuskan napas terakhir — di kamar Aisyah.

Proses Pemakaman Rasulullah ﷺ

Pemakaman dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kesedihan yang mendalam. Jenazah Rasulullah ﷺ dimakamkan dengan posisi kepala menghadap ke utara dan wajah menghadap kiblat. Setelah pemakaman selesai, rumah Aisyah tetap berdiri sebagaimana adanya.
Aisyah radhiyallāhu ‘anhā tinggal di sana selama beberapa tahun dan selalu menutup diri dengan kain penutup ketika memasuki ruang makam, karena di sanalah bersemayam suaminya yang mulia.

Makam Abu Bakar dan Umar di Samping Rasulullah ﷺ

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada tahun 13 Hijriah, beliau dimakamkan di samping Makam Rasulullah di Masjid Nabawi, sesuai wasiatnya. Di sebelahnya kemudian dimakamkan Umar bin al-Khaththab pada tahun 23 Hijriah, setelah mendapat izin dari Aisyah.
Bersisianlah tiga sosok agung itu — Nabi Muhammad ﷺ, Abu Bakar, dan Umar — dalam satu ruang kecil yang dikenal sebagai Hujrah Asy-Syarifah (Kamar yang Mulia).

Perluasan Masjid Nabawi dan Perlindungan Makam

Pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah (707–710 M), Masjid Nabawi diperluas besar-besaran. Rumah Nabi ﷺ dan ruang makam dimasukkan ke area masjid, dengan penuh kehati-hatian agar kehormatannya tidak terganggu.
Dinding tinggi dan berlapis dibangun mengelilingi ruang makam tanpa pintu masuk, sehingga tidak seorang pun dapat menjangkau langsung area tersebut. Struktur pelindung ini bertahan hingga kini.

Perawatan dari Masa ke Masa

Selama masa Abbasiyah, Mamluk, hingga Ottoman, berbagai pemeliharaan dilakukan untuk menjaga kekokohan dan kehormatan makam. Sultan Qaitbay dari Mesir menambahkan pagar besi indah pada abad ke-15.
Pada masa Kesultanan Utsmani, Sultan Mahmud II dan Sultan Abdul Majid memperindah bagian luar dengan kaligrafi Al-Qur’an dan ukiran geometris khas Islam.

Kubah Hijau: Simbol Kasih dan Kehormatan

Kubah pertama di atas ruang makam dibangun pada masa Mamluk, lalu diperkuat oleh para penguasa Ottoman hingga menjadi Kubah Hijau (Green Dome) yang kita kenal saat ini.
Namun, penghormatan umat Islam bukan pada kubahnya, melainkan kepada pribadi agung di bawahnya — Rasulullah ﷺ, pembawa risalah terakhir dari Allah.

Struktur dan Area Makam Rasulullah ﷺ

Ruang makam tidak dapat dilihat langsung oleh jamaah. Dari dalam masjid, yang tampak hanyalah pagar besi berwarna hijau keemasan dengan lubang kecil berpola.
Di balik pagar itu terdapat dinding tebal, dan di balik dinding itu lagi barulah ruang makam sebenarnya. Tidak ada pintu masuk bagi siapa pun; bahkan pengurus Masjid Nabawi pun tidak memasukinya, kecuali untuk pemeriksaan teknis dengan penghormatan luar biasa.

Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ

Setiap hari, jutaan umat Islam dari seluruh dunia datang ke Makam Rasulullah di Masjid Nabawi untuk mengucapkan salam kepada Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Mereka tidak berdoa kepada makam, tetapi kepada Allah, dengan menghadirkan cinta kepada Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud)

Pemeliharaan Modern oleh Pemerintah Saudi

Pemerintah Arab Saudi hingga kini menjaga Makam Rasulullah ﷺ dengan penuh kehormatan. Perawatan dilakukan tanpa mengubah bentuk aslinya.
Keamanan, kebersihan, dan pencahayaan dijaga ketat agar area ini tetap suci dan damai bagi seluruh jamaah.

Makna Spiritual Ziarah ke Makam Rasulullah ﷺ

Bagi umat Islam, berdiri di hadapan Makam Rasulullah di Masjid Nabawi bukan sekadar ziarah, melainkan perjumpaan spiritual yang mendalam. Di sanalah air mata rindu mengalir, doa dipanjatkan, dan cinta kepada Nabi ﷺ diperbarui.
Makam ini bukan hanya tempat peristirahatan, tetapi simbol kehidupan yang mengajarkan kasih, keikhlasan, dan pengabdian kepada Allah.

Referensi

  • Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, hadis tentang pemakaman para nabi.
  • Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, bab wafatnya Rasulullah ﷺ.
  • Ghani, Muhammad Ilyas Abdul. Sejarah Madina Munawwara: Sejarah Masjid Nabawi. Madinah, 2004.
  • Hilmi, Abd Al-Fattah. The History of Al-Masjid al-Nabawi (Mosque of the Prophet). Kairo, 1948.
  • In the Shade of the Green Dome, kompilasi sejarah arsitektur Masjid Nabawi.
  • Masjid Al-Nabawi Administration, publikasi resmi tentang Hujrah Asy-Syarifah.
  • Wikipedia – Prophet’s Mosque (The Prophet’s Chamber).

Tinggalkan pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *