Skip to main content

PT. Zam Zam Tour & Travel

Kenapa Hotel di Makkah Terasa Dekat, tapi Ternyata Jalannya Jauh?

Bagikan:

Pernah mengalami hal seperti ini saat umroh?

Dari kejauhan, hotel terlihat begitu dekat dengan Masjidil Haram. Bahkan, rasanya tinggal berjalan sebentar sudah sampai. Namun setelah mulai berjalan, ternyata jaraknya terasa lebih jauh dari perkiraan.

Hal seperti ini cukup sering dirasakan jamaah, terutama mereka yang baru pertama kali datang ke Makkah.

Lantas, kenapa hotel di Makkah bisa terlihat dekat, tetapi saat berjalan ternyata cukup jauh?

Mata Kita Bisa Salah Memperkirakan Jarak

Salah satu penyebabnya adalah cara mata manusia memperkirakan jarak.

Di kawasan sekitar Masjidil Haram terdapat banyak bangunan tinggi. Ketika sebuah hotel terlihat menjulang dari kejauhan, ukurannya yang besar membuatnya tampak seolah-olah berada sangat dekat.

Baca Juga! Apa yang Terjadi pada Sandal Jamaah yang Tertinggal di Masjidil Haram?

Padahal, jaraknya bisa masih cukup jauh.

Ditambah lagi, dari lantai atas hotel, berbagai bangunan di sekitar Masjidil Haram dapat terlihat dengan jelas. Kondisi ini membuat jamaah merasa lokasi tujuan sudah berada di depan mata.

Begitu turun dan mulai berjalan, barulah jarak sebenarnya terasa.

Jalan di Makkah Tidak Selalu Lurus

Hal lain yang membuat perjalanan terasa lebih panjang adalah bentuk jalan.

Jamaah tidak selalu bisa berjalan dalam satu garis lurus menuju hotel atau Masjidil Haram. Ada jalan yang harus mengikuti bentuk bangunan, trotoar, akses penyeberangan, hingga pintu masuk tertentu.

Akibatnya, jarak yang terlihat dari mata belum tentu sama dengan jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Inilah yang terkadang membuat jamaah berkata, “Tadi kelihatannya dekat, kok jalannya jauh?”

Banyaknya Jamaah Juga Memengaruhi

Makkah merupakan kota yang sangat ramai, terutama di kawasan Masjidil Haram.

Ketika arus jamaah sedang padat, kecepatan berjalan otomatis berkurang. Kita mungkin harus mengikuti arus, berhenti sejenak, menunggu rombongan, atau mencari celah untuk berjalan.

Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh pun akhirnya membutuhkan waktu lebih lama.

Karena itu, jangan hanya memperkirakan perjalanan berdasarkan jumlah meter.

Waktu tempuh dan kondisi keramaian juga perlu diperhitungkan.

Jalan Pulang Bisa Terasa Berbeda

Ini juga menarik.

Saat berangkat menuju Masjidil Haram, jamaah mungkin masih dalam kondisi segar sehingga perjalanan terasa biasa saja.

Namun setelah selesai salat atau melakukan thawaf, kondisi tubuh sudah berbeda.

Kaki mungkin mulai terasa lelah. Apalagi jika sebelumnya jamaah sudah banyak berjalan di area masjid.

Akibatnya, perjalanan kembali ke hotel yang sebenarnya memiliki jarak sama bisa terasa jauh lebih panjang.

Jangan Hanya Mengandalkan “Kelihatan dari Sini”

Bagi jamaah yang baru pertama kali berada di Makkah, melihat hotel dari kejauhan belum cukup untuk menentukan arah.

Bangunan tinggi juga bisa terlihat dari berbagai sudut. Tanpa mengenali jalan, seseorang bisa saja berjalan ke arah yang salah.

Karena itu, sebelum berangkat dari hotel, sebaiknya jamaah mengetahui nama hotel, patokan sekitar, dan titik berkumpul rombongan.

Jika menggunakan HP untuk navigasi, jangan lupa memperhatikan kondisi baterai dan jaringan.

Jamaah Lansia Perlu Lebih Memperhatikan Jarak

Bagi jamaah lanjut usia, jarak perjalanan sebaiknya tidak dianggap sepele.

Beberapa ratus meter dapat terasa berbeda ketika harus ditempuh setelah beribadah dalam kondisi lelah atau cuaca panas.

Baca Juga! Titik Water Station Air Zamzam di Masjidil Haram, Jamaah Bisa Minum dengan Mudah

Karena itu, pendamping jamaah sebaiknya tidak hanya mengatakan, “Dekat kok.”

Lebih baik memberikan informasi yang jelas mengenai perkiraan waktu berjalan dan kondisi rute.

Dengan begitu, jamaah dapat mempersiapkan tenaga dan tidak merasa kaget ketika perjalanan ternyata lebih panjang dari perkiraan.

Ternyata “Dekat” di Makkah Punya Cerita Sendiri

Fenomena hotel yang terlihat dekat tetapi terasa jauh sebenarnya mengingatkan kita pada satu hal sederhana: apa yang terlihat belum tentu menggambarkan perjalanan yang sebenarnya.

Di Tanah Suci, perjalanan menuju masjid bisa menjadi bagian dari pengalaman umroh itu sendiri.

Ada langkah yang terasa ringan, ada pula yang membutuhkan kesabaran. Karena itu, jamaah sebaiknya mempersiapkan fisik, mengenali lingkungan sekitar hotel, serta mengikuti arahan pendamping rombongan.

Dengan persiapan yang baik, perjalanan menuju Masjidil Haram maupun kembali ke hotel dapat terasa lebih tenang.

Bagikan:

Tinggalkan pesan ...

Your email address will not be published. Required fields are marked *