Skip to main content

PT. Zam Zam Tour & Travel

Ada Alasan Kenapa Thawaf Dilakukan Berlawanan Arah Jarum Jam

Bagikan:

Ketika melihat jamaah melakukan thawaf di sekitar Ka’bah, ada satu hal yang langsung terlihat. Semua jamaah bergerak berlawanan arah jarum jam, dengan Ka’bah berada di sebelah kiri.

Arah ini bukan sekadar kebiasaan atau pilihan teknis agar jamaah lebih mudah bergerak. Thawaf memiliki aturan dan tata cara yang telah ditetapkan dalam ibadah haji dan umroh.

Namun, menariknya, arah gerakan tersebut juga sering membuat orang bertanya-tanya. Kenapa thawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam?

Pertanyaan ini cukup menarik karena jawabannya berkaitan dengan tata cara ibadah, sekaligus mengandung pelajaran tentang ketaatan seorang muslim.

Apa Itu Thawaf?

Thawaf adalah ibadah dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari arah Hajar Aswad dan berakhir kembali di titik tersebut.

Selama melakukan thawaf, jamaah berjalan dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri.

Karena itu, jika dilihat dari atas, arah pergerakan jamaah tampak berlawanan dengan arah jarum jam.

Thawaf menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah umroh maupun haji. Oleh sebab itu, tata caranya perlu diperhatikan agar ibadah dapat dilakukan sesuai tuntunan.

Apakah Ada Dalil Khusus yang Menjelaskan Kenapa Arahnya Berlawanan?

Ini bagian yang sering disalahpahami.

Tidak ada dalil sahih yang secara tegas menyebut bahwa thawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam karena alasan tertentu seperti mengikuti arah putaran bumi, aliran energi, atau alasan ilmiah lainnya.

Yang menjadi dasar adalah tuntunan Rasulullah ﷺ dalam pelaksanaan thawaf.

Baca Juga! Mengapa Anak Muda Harus Mulai Menabung Umroh Sejak Sekarang?

Dengan demikian, seorang muslim menjalankan thawaf sebagaimana tata cara yang diajarkan dalam syariat.

Jadi, ketika ditanya mengapa jamaah mengelilingi Ka’bah berlawanan arah jarum jam, jawaban utamanya adalah karena itulah tata cara thawaf yang dicontohkan dalam ibadah haji dan umroh.

Ka’bah Selalu Berada di Sebelah Kiri

Saat melakukan thawaf, jamaah menjaga posisi Ka’bah tetap berada di sebelah kiri.

Hal tersebut menjadi bagian penting dari tata cara thawaf.

Jamaah kemudian berjalan mengelilingi Ka’bah hingga menyelesaikan tujuh putaran. Putaran dimulai dari Hajar Aswad dan setiap putaran berakhir ketika kembali ke titik tersebut.

Karena posisi Ka’bah berada di sebelah kiri, arah gerak jamaah secara otomatis menjadi berlawanan dengan arah jarum jam jika dilihat dari atas.

Bukan Sekadar Soal Arah Berjalan

Kalau hanya melihat dari luar, thawaf mungkin tampak seperti aktivitas berjalan mengelilingi sebuah bangunan.

Padahal, maknanya jauh lebih dalam.

Jamaah datang dari berbagai negara, dengan bahasa dan latar belakang yang berbeda. Mereka kemudian berkumpul di satu tempat dan melakukan ibadah yang sama.

Tidak ada jalur khusus berdasarkan negara.

Tidak ada perbedaan putaran berdasarkan status sosial.

Semua mengikuti tata cara yang sama.

Di sinilah thawaf mengajarkan bahwa dalam ibadah, seorang muslim belajar untuk mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Kenapa Tidak Boleh Dibalik Arahnya?

Thawaf bukan sekadar berjalan mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Ada ketentuan yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah arah pergerakan sehingga Ka’bah berada di sebelah kiri jamaah.

Karena itu, jamaah tidak bisa memilih sendiri untuk berjalan searah jarum jam hanya karena merasa lebih nyaman atau lebih mudah.

Ibadah memiliki aturan.

Hal ini menjadi pengingat bahwa tidak semua ibadah dapat dilakukan berdasarkan logika pribadi. Ada bagian-bagian tertentu yang memang harus mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Bagaimana dengan Penjelasan Sains?

Ada berbagai penjelasan di internet yang menghubungkan arah thawaf dengan rotasi bumi, pergerakan elektron, aliran darah, hingga teori energi tertentu.

Penjelasan seperti itu memang menarik untuk dibaca. Namun, sebaiknya tidak dijadikan sebagai alasan utama mengapa thawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam jika tidak memiliki dasar ilmiah atau dalil yang kuat.

Dalam ibadah, dalil syariat menjadi dasar utama.

Sementara itu, apabila ada hikmah atau manfaat yang kemudian dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan, hal tersebut bisa menjadi bahan renungan. Namun, jangan sampai sesuatu yang masih berupa teori justru dianggap sebagai dalil agama.

Ada Pelajaran Tentang Ketaatan

Salah satu hal menarik dari thawaf adalah bagaimana jamaah mengikuti aturan yang sama tanpa banyak mempertanyakan bentuk pelaksanaannya.

Mulai dari arah berjalan, jumlah putaran, hingga titik awal dan akhir memiliki ketentuannya masing-masing.

Dari sini ada pelajaran sederhana.

Baca Juga! Titik Water Station Air Zamzam di Masjidil Haram, Jamaah Bisa Minum dengan Mudah

Tidak semua hal dalam ibadah harus terlebih dahulu kita pahami alasannya untuk kemudian kita taati.

Ada kalanya seorang muslim menjalankan perintah karena percaya bahwa ketentuan tersebut berasal dari Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Pemahaman tentang hikmah tentu penting. Namun, ketaatan tetap menjadi dasar.

Thawaf Mengingatkan Bahwa Semua Manusia Sama di Hadapan Allah

Cobalah melihat suasana thawaf dari kejauhan.

Ada jamaah dari Indonesia, India, Turki, Afrika, Eropa, Arab, dan berbagai penjuru dunia. Mereka memiliki bahasa dan kebiasaan yang berbeda.

Namun ketika thawaf dimulai, semuanya melakukan ibadah yang sama.

Berjalan mengelilingi Ka’bah.

Tujuh putaran.

Dengan Ka’bah berada di sebelah kiri.

Pemandangan tersebut menjadi salah satu gambaran kuat tentang persatuan umat Islam.

Jadi, Kenapa Thawaf Berlawanan Arah Jarum Jam?

Jawabannya sebenarnya cukup sederhana.

Thawaf dilakukan berlawanan arah jarum jam karena demikian tata cara yang diajarkan dalam pelaksanaan ibadah tersebut, dengan Ka’bah berada di sebelah kiri jamaah.

Tidak perlu mencari-cari alasan yang belum memiliki dasar kuat untuk menjelaskan ketentuan tersebut.

Jika kemudian ada berbagai hikmah yang dapat dipelajari dari arah thawaf, tentu boleh menjadi bahan renungan. Namun, dasar utamanya tetaplah mengikuti tuntunan syariat.

Pada akhirnya, thawaf bukan tentang sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah.

Di dalamnya ada ketaatan, doa, kesabaran, kebersamaan, dan penghambaan kepada Allah.

Dan mungkin justru di situlah salah satu keindahannya: ribuan manusia bergerak dalam satu arah, dengan satu tujuan, menghadap kepada satu pusat ibadah.

Bagikan:

Tinggalkan pesan ...

Your email address will not be published. Required fields are marked *