Skip to main content

PT. Zam Zam Tour & Travel

Ternyata Ada Bagian Ka’bah yang Tidak Boleh Disentuh Sembarangan. Kenapa?

Bagikan:

Saat berada di Masjidil Haram, banyak jamaah tentu ingin mendekat ke Ka’bah. Sebagian bahkan berusaha menyentuh bagian-bagian Ka’bah sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan terhadap Baitullah.

Namun, tahukah Anda bahwa tidak semua bagian Ka’bah boleh disentuh atau diperlakukan sembarangan?

Ada bagian tertentu yang memiliki tuntunan khusus dalam ibadah. Karena itu, keinginan untuk menyentuh Ka’bah tetap harus mengikuti aturan dan adab yang berlaku.

Hajar Aswad Memiliki Tuntunan Khusus

Salah satu bagian Ka’bah yang paling dikenal adalah Hajar Aswad.

Dalam pelaksanaan thawaf, Hajar Aswad menjadi titik awal sekaligus akhir setiap putaran. Jamaah dianjurkan untuk menghadap atau memberi isyarat kepadanya sesuai kemampuan dan kondisi.

Namun, ini bukan berarti jamaah harus memaksakan diri untuk menyentuhnya.

Baca Juga! Keajaiban Teknologi di Masjid Nabawi : Payung Raksasa yang Meneduhkan Jamaah

Ketika kondisi sangat padat, berdesakan demi mencapai Hajar Aswad justru dapat membahayakan diri sendiri maupun jamaah lain.

Karena itu, ibadah tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan keselamatan atau mengganggu orang lain.

Tidak Semua Dinding Ka’bah Disunnahkan untuk Dipegang

Ini bagian yang cukup menarik.

Banyak orang mungkin mengira bahwa semakin banyak bagian Ka’bah yang disentuh, semakin besar pula keutamaannya.

Padahal, tidak demikian.

Dalam tuntunan ibadah, menyentuh atau mengusap bagian tertentu tidak boleh dianggap sebagai ritual yang bebas dilakukan pada seluruh bagian Ka’bah.

Jamaah perlu membedakan antara ibadah yang memiliki tuntunan dan tindakan yang dilakukan hanya karena melihat jamaah lain melakukannya.

Bagaimana dengan Rukun Yamani?

Selain Hajar Aswad, ada bagian Ka’bah yang dikenal sebagai Rukun Yamani.

Rukun Yamani berada di salah satu sudut Ka’bah dan memiliki tuntunan tersendiri dalam thawaf.

Jika memungkinkan tanpa menyakiti atau mengganggu jamaah lain, Rukun Yamani disentuh dengan tangan kanan. Namun jika tidak memungkinkan, jamaah cukup melanjutkan thawaf tanpa memaksakan diri.

Berbeda dengan Hajar Aswad, Rukun Yamani tidak disunnahkan untuk dicium.

Hal ini menjadi salah satu contoh bahwa setiap bagian Ka’bah memiliki perlakuan yang berbeda sesuai tuntunan.

Lalu Bagaimana dengan Kiswah?

Kiswah adalah kain yang menutupi Ka’bah dan menjadi bagian yang sangat menarik perhatian jamaah.

Karena letaknya mudah dijangkau di beberapa area, ada jamaah yang ingin memegang atau menariknya.

Padahal, jamaah tidak perlu berebut atau menarik kiswah.

Selain berpotensi mengganggu jamaah lain, tindakan tersebut juga tidak menjadi bagian dari tata cara thawaf.

Yang terpenting adalah menjaga adab dan tidak menjadikan setiap sentuhan sebagai bagian dari ritual ibadah.

Kenapa Tidak Boleh Sembarangan?

Alasannya bukan karena Ka’bah memiliki bagian yang “berbahaya” untuk disentuh.

Persoalannya adalah ibadah memiliki tuntunan.

Dalam beribadah, niat baik saja belum cukup. Cara melaksanakannya juga perlu mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.

Apalagi ketika berada di tempat yang sangat ramai seperti Masjidil Haram. Memaksakan diri untuk menyentuh suatu bagian Ka’bah dapat menyebabkan dorong-dorongan, menghalangi jamaah lain, bahkan berisiko membuat seseorang terjatuh.

Karena itu, menjaga ketertiban juga merupakan bagian dari adab ketika berada di Baitullah.

Tidak Menyentuh Bukan Berarti Kurang Khusyuk

Ini penting untuk dipahami jamaah.

Jika tidak berhasil menyentuh Hajar Aswad atau Rukun Yamani, thawaf tetap dapat dilaksanakan dengan baik.

Jangan sampai keinginan mendapatkan kesempatan menyentuh bagian tertentu justru membuat jamaah kehilangan ketenangan dalam beribadah.

Baca Juga! Apa yang Terjadi pada Sandal Jamaah yang Tertinggal di Masjidil Haram?

Thawaf bukan perlombaan untuk mendapatkan posisi paling dekat dengan Ka’bah.

Yang lebih utama adalah menjalankan setiap putaran dengan benar, menjaga kekhusyukan, dan tidak menyakiti sesama jamaah.

Ada Pelajaran Penting di Baliknya

Ka’bah memang menjadi pusat perhatian jutaan umat Islam. Namun, kecintaan kepada Baitullah juga perlu diwujudkan dengan mengikuti tuntunan dan menjaga adab.

Tidak semua yang bisa disentuh harus disentuh.

Tidak semua yang dilakukan orang lain harus kita ikuti.

Dan tidak semua keinginan harus dipaksakan.

Bagi jamaah yang akan melaksanakan umroh, memahami hal-hal sederhana seperti ini dapat membantu ibadah berjalan lebih tenang dan tertib.

Sebab, di Tanah Suci, menghormati tempat ibadah juga berarti menghormati jamaah lain yang sedang beribadah.

Bagikan:

Tinggalkan pesan ...

Your email address will not be published. Required fields are marked *